10/11/2012

PENGABDIAN SEORANG BIDAN

Pengabdian seorang BIDAN

Pada zaman sekarang, seberapa banyak orang yang masih mempunyai totalitas semangat pengabdian pada masyarakat atau lingkungan sekitarnya, tanpa pamrih dan batas, bahkan rela menyisihkan seluruh waktu, pikiran, biaya bahkan hidupnya demi orang lain?

1. Bidan Ros rosita.
Yang pertama adalah bidan Ros Rosita. Bidan asal Kabupaten Lebak, Banten ini, telah mengabdikan hidupnya selama lebih dari 10 tahun, untuk melayani kesehatan orang-orang suku Baduy. Bidan Ros, panggilan akrab wanita ini, rela melakukan perjalanan hingga 6 jam dengan jalan kaki, demi mengunjungi para pasiennya di pedalaman hutan Kanekes, Leuwidamar, Lebak, Banten. Sejak tahun 1997, Bidan Ros memerlukan waktu 2 tahun agar berbagai metode dan peralatan medis modernnya, seperti obat-obatan, jarum suntik, hingga konsep imunisasi diterima oleh suku Baduy, yang terkenal sangat anti segala hal yang berbau modern.

Namun berkat ketekunan dan semangat pengabdiannya, tradisi itu mampu dipatahkannya dan dia menjadi satu-satunya “dukun modern” yang diterima di kalangan suku Baduy Dalam. Kini, bidan Ros masih setia menjalani pelayananan kesehatan dengan waktu praktik 24 jam non stop dan bayaran seadanya.

“Ya dulu dari awal sih, saya sudah siap dengan rezeki saya dari mereka, seperti untuk melahirkan hanya sepuluh ribu rupiah. Alhamdulillah sekarang sudah naik sedikit menjadi dua puluh ribu rupiah” tutur bidan Ros, yang masih memiliki cita-cita mendirikan rumah bersalin di kawasan Baduy, dengan mantap.

2. Bidan Siti Aminah
Selanjutnya adalah seorang bidan juga, yang juga memiliki panggilan hati untuk bisa melayani kesehatan orang lain tanpa pamrih apapun. Bidan Siti Aminah, mengaku sejak kecil saat ikut pramuka, setiap melihat orang-orang sekitarnya menderita penyakit, berketetapan untuk bisa mengobati mereka.

“ Aku waktu kecil ikut pramuka, lihat orang-orang pada korengan, kudisan, hidung meler, atau luka-luka, selalu merasa trenyuh sendiri. Ya udah, aku janji ke diriku sendiri, nanti kalau sudah dewasa jadi orang yang akan melayani dan mengobati mereka, ndak dibayar juga ndak apa-apa” ungkap Bidan asal Mojokerto Jawa Timur ini. Janji itu digenapi oleh Bidan Aminah, dengan mengambil jurusan Kesehatan Masyarakat saat kuliah.

Setelah lulus, ikatan dinas ke hampir seluruh penjuru Indonesia, dilakukannya dengan sepenuh hati. Melayani pasien di daerah-daerah kawasan miskin dan terpencil, yang kadang tak mampu membayar, dijalaninya dengan tulus dan senang hati.

“Waktu di daerah, pasien-pasienku kan orang-orang kalangan bawah, jadi ya bayarnya seadanya mereka. Lagi musim durian atau rambutan, ya seluruh rumah pasti bakal penuh dengan durian dan rambutan, atau kalo lagi jalan di pasar, tas pasti bakal penuh dengan sayuran, ikan dan barang-barang jualan lainnya dari mereka. Sampai adikku bercanda, ya udah kalau lewat situ, bawa tas yang buesar aja ” kekeh Bidan Aminah mengenang masa tugasnya di luar Pulau Jawa.

3. Bidan Aminah
Bidan Aminah memilih Cilincing, kecamatan kumuh di kawasan Jakarta Utara dan kampung nelayan di kawasan Bekasi, sebagai tempat pengabdiannya. Berbagai tantangan dan peristiwa yang berkaitan dengan keterbatasan ekonomi pasiennya dan minimnya pelayanan kesehatan dari pemerintah setempat, juga terjadi di sini.

Misal pemeriksaan kesehatan dan pengobatan tanpa bayaran, hingga mengeluarkan biaya dari kantong pribadi demi membayar obat-obatan pasiennya. Bahkan, bidan Aminah rela mengubah mobil pribadinya sebagai mobil ambulans, dan disetirinya sendiri setiap hari demi mengunjungi dan mengangkut pasien-pasiennya.

Kepedulian yang tinggi pada lingkungan sekitarnya, kini bertambah pada pendidikan anak-anak warga miskin. Untuk itu, bidan Aminah telah mendirikan sekolah TK gratis bagi anak-anak di sekitar tempat praktiknya.

4. Gisela Borowka (bukan bidan)
Dia adalah seorang perempuan mantan warga negara Jerman yang memenuhi panggilan hati untuk mengabdi lintas negara. Gisela Borowka, atau lebih dikenal sebagai Mama Barat atau Mama Putih di kawasan Nusa Tenggara Timur, memutuskan untuk menghabiskan hidupnya di negara yang sebelumnya sama sekali asing baginya.

Pengabdiannya di Indonesia dimulai saat usia 29 tahun, pada 26 Agustus 1963, Gisela memilih kawasan Lembata di Flores Timur, yang penuh dengan para penghuni kusta atau lepra. Kawasan penampungan bagi orang-orang yang dikucilkan oleh masyarakat karena penyakitnya itu, menarik minatnya sebagai lahan pengabdian.

Hingga sekitar tahun 1980, Gisela mengabdikan diri dengan tulus mendampingi dan merawat para penderita kusta di Lembata. Bahkan pada 1968, sebuah rumah sakit didirikannya untuk pengobatan menyeluruh para penderita kusta. Setelah berhasil mengurangi jumlah penderita kusta di Lembata secara signifikan, Gisela memilih pulau Alor untuk tempat pengabdian selanjutnya.

Kini 45 tahun berselang, Gisela yang resmi menjadi WNI sejak 20 September 1996 ini, masih terus menjalankan rumah sakit, mengajarkan pola hidup sehat, pendidikan non formal untuk bekal para bekas penderita kusta dan mendirikan panti asuhan bagi anak-anak terlantar dan dari keluarga miskin di pulau Alor. Gisela sudah berketetapan, menjalani sisa hidupnya dengan terus merawat penduduk Alor hingga akhir hidupnya


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar